Keynesian Kembali Berkibar

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI Edisi Nov-Des 08)

Ketika krisis keuangan melanda Amerika Serikat (AS) dan menular keseluruh dunia, sehingga gejala resesipun mulai menghinggapi perekonomian dunia, banyak ekonom dan pemerintahan negara-negara di dunia mulai kembali berpaling pada teori dan pemikiran John Maynard Keynes.

Sudah sejak lama Keynes menjelaskan bahwa pasar tidak bisa mengkoreksi dirinya sendiri, karena itu perlunya dikeluarkan regulasi dan campur tangan pemerintah. Tetapi selama tiga dekade ini banyak pihak, terutama mereka yang bergerak di industri pasar keuangan, memaksakan apa yang disebut market fundamentalism.

Keynes juga mengungkapkan bahwa tidak hanya pasar yang tidak bisa menyeimbangkan dirinya sendiri, kebijakan moneter pun akan menjadi tidak efektif ketika perekonomian sedang mengalami pelemahan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan fiskal, walaupun tidak seluruh kebijakan fiskal juga akan berdampak efektif. Sebagai contoh pada kondisi saat ini, Jospeh E. Stiglitz mengatakan bahwa  di AS besarnya hutang rumah tangga dan ketidakpastian mengakibatkan pemotongan pajak menjadi tidak efektif. Pemotongan pajak pada bulan Februari 2008 lalu ternyata tidak meningkatkan konsumsi tetapi meningkatkan tabungan. Yang harus dilakukan adalah pemotongan pajak kepada rakyat miskin dan meningkatkan tunjangan bagi para pengangguran karena keduanya mempunyai marginal propensity to consume tinggi.

Memecahkan Masalah Peseta
John Maynard Keynes yang lahir di Cambridge, Inggris pada tahun 1883 dan merupakan putra seorang ekonom di Cambridge University. Keynes juga seorang anak didik ekonom kenamaan Alfred Marshall di universitas tersebut dan kemudian menjadi pengajar di almamaternya itu.

Keynes pernah diangkat sebagai Royal Commission on Indian Currency & Finance dan berhasil  menunjukkan kemampuannya dalam mengaplikasikan teori ekonomi ke dalam praktek. Hal ini membuat pemikiran-pemikiran Keynes mulai dikenal dan diperhitungkan.

Keahlian Keynes semakin dibutuhkan ketika masa Perang Dunia I, ketika pada saat itu diangkat sebagai penasehat British Chancellor of the Exchequer (Menteri Keuangan Inggris yang merupakan orang yang paling berkuasa setelah Perdana Menteri Inggris). Salah satu tanggungjawabnya adalah mendesain term of credit antara Inggris dengan para sekutunya selama perang dan memecahkan kelangkaan mata uang bebeapa negara.

Pada kurun waktu ini Keynes mulai dikenal luas ketika dia mampu memecahkan masalah kelangkaan mata uang Spanyol, pesetas. Dalam suatu pertemuan dengan Menteri Keuangan, Keynes mengusulkan suatu solusi temporer yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Inggris.  Pada saat itu Keynes mengusulkan untuk menjual ke pasar semua mata uang pesetas yang dimiliki pemerintah Inggris. Setelah usul itu dilaksanakan ternyata kelangkaan mata uang pesetas bisa diatasi dan harganya mulai turun. Keberhasilan ini membuat Keynes dipercaya sebagai utusan Menteri Keuangan dalam konferensi perdamaian Versailles tahun 1919.

Berdasarkan pengalaman dan hasil observasinya, Keynes menulis sebuah buku yang sangat berpengaruh yaitu The Economic Consequences of the Peace pada tahun 1919, kemudian buku A Revision of the Treaty tahun 1922. Dengan menggunakan data statistik yang diperolehnya dari delegasi Jerman, Keynes berpendapat bahwa biaya pampasan perang yang harus dibayar oleh Jerman sebagai pihak yang kalah kepada pihak yang menang perang terlalu besar, dan akan mengakibatkan kehancuran ekonomi Jerman yang dikhawatirkan akan membawa konflik lanjutan bagi Eropa. Pendapat Keynes kemudian terbukti dengan hancurnya ekonomi Jerman pada tahun 1923. Hal ini menyebabkan Jerman tidak mampu membayar pampasan perangnya.

Kemudian pada tahun 1921, Keynes menerbitkan buku Treatise on Probability, yang merupakan sumbangan yang besar bagi perkembangan Teori Probablitas, dimana Keynes mengungkapkan bahwa probabilitas adalah suatu nilai yang sebenarnya diantara salah dan benar.

Pada tahun 1923, ketika kebijakan deflasi dilaksanakan pemerintah Inggris pada tahun 1920-an, Keyness menyerangnya dengan menerbitkan A Tract on Monetary Reform, suatu argumen yang menyatakan bahwa negara-negara seharusnya menargetkan stabilitas harga domestik dan mengusulkan flexible exchange rates.

Kemudian pada tahun 1930, Keynes menulis Treatise on Money, yang terbit dalam dua jilid, yang menerangkan secara efektif tentang teori credit cycle dari Knut Wicksell yang sekaligus menunjukkan bahwa dirinya sebagai penganut Wicksellian.

Magnum Opus
Pada tahun 1936 terbitlah magnum opus Keynes, yaitu The General Theory of Employment, Interest and Money, yang merupakan pemikiran revolusioner dan menantang paradigma ekonomi pada saat itu. Dalam edisi bahasa Jerman buku tersebut Keynes bahkan menulis pengantar yang mengatakan bahwa, “the theory of aggregated production, which is the point of the following book, nevertheless can be much easier adapted to the conditions of a totalitarian state (eines totalen Staates) than the theory of production and distribution of a given production put forth under conditions of free competition and a large degree of laissez-faire)”.

Dalam buku ini Keynes mengedepankan sebuah teori yang didasarkan pada agregat demand untuk menjelaskan variasi dari keseluruhan aktivitas ekonomi, sebagaiman tlah diobservasi pada saat great depression di AS.

Seperti halnya karya-karya para ekonom besar lainnya, karya Keynes juga menjadi subyek kontroversi pendapat. Buku yang ditulis Keynes merupakan penolakan terhadap asas-asas laissez-faire.

Secara umum teori Keynes dalam buku ini mempunyai sifat, pertama, teorinya berhubungan dengan semua tingkat kesempatan kerja, tidak hanya pada kondisi full employment sebagaimana teori ekonomi klasik. Kedua, Keynes menerangkan inflasi dan pengangguran dengan prinsip yang sama yaitu prinsip permintaan efektif terhadap barang dan jasa. Ketiga, teori Keynes tidak mempersoalkan sebuah usaha individual atau cabang perusahaan individual, melainkan berhubungan dengan kehidupan ekonomi secara keseluruhan. Karena itu teori Keynes berupa teori keseimbangan umum.

Keynes menolak pendapat kaum klasik bahwa pasar tenaga kerja senantiasa merupakan suatu sellers market, Karena tidak selalu setiap orang pasti akan memperoleh pekerjaan bila upahnya rendah. Ide pasar persaingan sempurna tenaga kerja tidak realistis. Keynes menyatakan teorinya tidak tegantung pada tingkat persaingan yang terdapat di pasar. Penurunan upah merupakan hal yang tidak bermoral dan tidak sehat.

Teori yang disampaikan Keynes ini menjadi sebuah awal munculnya teori makroekonomi modern yang kita kenal sekarang.

Keynes menjadi inspirasi dari kebijakan ekonomi Eropa dan AS dalam periode 1941-1979. Bahkan dalam dekade 1950-an dan 1960-an pengaruh Keynes mencapai puncaknya dan sering disebut sebagai masa keemasan Keynes. Bahkan pada tahun 1965 majalah Time menuliskan sebuah artikel dengan judul berasal dari pernyataan Milton Friedman yang sangat terkenal yang kemudian diucapkan oleh Presiden AS Richard Nixon yaitu, “We are all Keynessians now”.

Artikel itu menyebutkan bahwa para pengelola perekonomian AS sangat percaya pada tema utama teori Keynes yaitu bahwa, “the modern capitalist economy does not automatically work at top efficiency, but can be raised to that level by the intervention and influence of the government.” Artikel ini juga menyebutkan bahwa Keynes adalah salah satu dari tiga ekonom besar dunia selain Adam Smith dan Karl Marx. Bahkan The General Theory dikatakan mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan Wealth of Nations dan Das Kapital.

Meredupnya Keynesian
Kondisi perekonomian  tahun 1970-an yang diakibatkan krisis minyak dan diikuti oleh resesi menyebabkan kritik terhadap ekonomi Keynesian, terutama dari para ekonom Chicago School of Economics yang berfaham monetarism serta Freidrich von Hayek dari Austrian School.

Pada tahun 1979 prinsip-prinsip kaum Monetarist menjadi arus utama dalam kebijakan ekonomi Anglo-Amerika dan menggantikan peran Keynes. Setelah itu para penganut doktrin pasar bebas semakin kuat pada lembaga-lembaga utama seperti Bank Dunia, IMF, Departemen Keuangan AS dan beberapa media terkemuka seperti Financial Times dan the Economist.

Pada kondisi krisis keuangan yang melanda AS dan negara-negara besar lainnya pada tahun 2008 ini, para pemimpin dunia kembali melirik para penganut Keynesian, diantaranya Joseph E Stiglitz dan Robert Reich, bahkan salah seorang diantaranya berhasil menyabet gelar Nobel untuk Ekonomi pada tahun 2008 yaitu Paul Krugman.

Berbagai kebijakan dalam menghadapi krisis yang dilakukan oleh negara-negara besar sangat beraroma Keynesian. Pada bulan September 2008 pemerintah AS melakukan bail out terhadap industri keuangannya. Bahkan British Chancellor of the Exchequer merujuk pada Keynes ketika mengumumkan rencana untuk melakukan stimulus fiskal untuk melawan efek dari resesi. Hal ini sangat bertolak belakang dengan keadaan Indonesia pada masa krisis tahun 1997, dimana IMF telah memaksa pemerintah Indonesia untuk menutup 16 bank sekaligus, yang mengakibatkan industri perbankan Indonesia rontok.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: