Pemulihan Krisis Berwawasan Lingkungan

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI Edisi Jan-Feb 09)

Krisis ekonomi yang sedang melanda dunia disebut-sebut sebagai krisis terburuk sejak masa great depression pada tahun 1930-an. Menurut proyeksi Bank Dunia, pada tahun 2009 ini untuk pertama kalinya volume perdagangan dunia akan mengalami penurunan, begitu juga dengan pendapatan perkapita global. Angka pengangguran secara global akan meningkat  antara 18 juta sampai 51 juta orang bila dibandingkan angka tahun 2007. Kemudian setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang akan mengakibatkan bertambahnya 20 juta orang miskin.

Turunnya harga saham, meningkatnya pengangguran dan bangkrutnya industri  telah membuat dunia memusatkan perhatian pada masalah pemulihan ekonomi. Berbagai kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh pemerintahan di berbagai belahan bumi untuk menyelamatkan perekonomian. Mulai dari stimulus fiskal, pengambil alihan oleh pemerintah sampai memperketat peraturan di industri keuangan.

Walaupun demikian pemerintahan negara-negara di dunia tidak seharusnya melupakan perhatiannya pada masalah perubahan iklim. Bahkan bila mungkin mampu menciptakan upaya yang bertujuan ganda yaitu mampu memulihkan perekonomian serta sekaligus melawan pemanasan global. Keadaan ini bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi pada bidang lingkungan, sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian.

Global Green New Deal

Achim Steiner, Direktur Eksekutif United Nation Environment Program (UNEP), dalam tulisannya menyatakan bahwa krisis ekonomi yang terjadi bisa dijadikan peluang untuk mengembangkan program-program penciptaan lapangan kerja yang berwawasan lingkungan yang disebut Global Green New Deal (GGND).

GGND sendiri mempunyai tiga tujuan yaitu, pertama, menggerakkan perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan melindungi pihak-pihak yang rawan. Kedua, mengurangi ketergantungan akan karbon, penurunan ekosistem dan kelangkaan air. Dan ketiga, melanjutkan pencapaian Millennium Development Goal (MDG) yaitu menghapuskan kemiskinan global pada tahun 2025.

Pada bulan Februari 2009, UNEP mengundang para ekonom dunia untuk ikut terlibat dalam pengembangan strategi GGND,  dimana strategi ini akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara, sehingga mampu membantu para pengambil keputusan di masing-masing negara untuk mengembangkan program pemulihan krisis yang berwawasan lingkungan.

Dana sejumlah triliunan dolar akan digunakan untuk program GGND. Hal ini tentu merupakan suatu kesempatan bagi negara-negara di dunia untuk dapat mengelola sumberdaya secara lebih efisien dan lebih cerdas,mulai dari masalah pemanasan global, kelangkaan sumberdaya alam, kekurangan air sampai pada masalah keaneka ragaman hayati.

Menurut laporan UNEP tentang A Global Green New Deal, disebutkan bahwa program ini  diilhami oleh kebijakan Presiden Amerika Serikat, Franklin D. Roosevelt yang pada masa great depression tahun 1930-an dikenal dengan nama New Deal, hanya saja dibangun dengan visi yang lebih luas dan dan dalam skala global. GGND mengidealkan suatu pemilihan dan implementasi kebijakan politik yang tepat diharapkan akan menghasilkan suatu program yang dapat menstimulasi pemulihan ekonomi, sekaligus meningkatkan pembangunan dunia yang berkelanjutan. Bila aksi ini bisa diadopsi, maka dalam beberapa tahun saja akan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja, meningkatkan taraf hidup orang miskin, dan mengarahkan investasi ke sektor-sektor ekonomi yang dinamis.

Suatu pandangan baru yang lebih luas memang diperlukan supaya keberhasilan pemulihan ekonomi bisa bertahan. Mempertahankan konsep pertumbuhan, memperkuat stabilitas keuangan dan penciptaan lapangan kerja memang tetap menjadi tujuan yang mendasar. Tetapi apabila kebijakan tersebut  mengabaikan masalah pengurangan ketergantungan terhadap energi karbon, perlindungan ekosistem, sumber air bersih dan kemiskinan, maka program pemulihan tersebut hanya akan mempunyai efek berjangka pendek. Tanpa pandangan yang lebih luas tersebut, upaya pemulihan ekonomi hanya akan mempunyai dampak yang sangat kecil bila dibandingkan dengan ancaman kerusakan akibat perubahan iklim, kelangkaan energi, kelangkaan air bersih, menurunnya ekosistem, dan yang paling parah lagi, memburuknya tingkat kemisikinan global.

Sebenarnya konsep perlunya mengurangi ketergantungan karbon dan kelangkaan ekologi tersebut bukan semata-mata masalah kepedulian lingkungan saja, tetapi itulah jalan yang harus ditempuh untuk mewujudkan revitalisasi ekonomi yang bermanfaat dan berkelanjutan.

Stimulus Hijau

Dalam upaya memulihkan perekonomian dari krisis, banyak negara mengeluarkan berbagai paket kebijakan yang memberikan stimulus pada perekonomian yang juga merupakan program berwawasan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa krisis bukanlah merupakan penghalang untuk tetap berkomitmen terhadap masalah perubahan iklim. Program-program stimulus ini diharapkan akan memicu suatu tren transformasional untuk menciptakan konsep green economy.

Amerika Serikat mengeluarkan paket stimulus yang didalamnya memuat berbagai proyek untuk mengatasi pemanasan global, seperti mempercepat proyek energi terbarukan dan membenahi sistem kelistrikan yang tidak efisien dan boros. Proyek-proyek tersebut akan mampu menyerap jutaan “tenaga kerja hijau” dan akan membantu upaya menggerakkan kembali perekonomian AS.

Pemerintah Korea Selatan, yang untuk pertama kalinya mengalami kenaikan jumlah pengangguran semenjak lima tahun lalu telah mengeluarkan berbagai program yang bernuansa hijau. Korea Selatan menganggarkan US$36 miliar untuk program tersebut sepanjang tahun 2009-2012. Program ini diharapkan mampu menyerap 960.000 tenaga kerja, dan pada tahun 2009 ini diharapkan tercipta sekitar 149.000 lapangan kerja, yang terbesar di sektor konstruksi. Program ini mencakup restorasi bagi empat sungai utama yang ada di negara itu, membangun industri pengolahan air bersih dan pembuatan dam ukuran kecil dan menengah serta program restorasi hutan. Program lainnya adalah pengembangan proyek transportasi ramah lingkungan, pembuatan ratusan kilometer jalur sepeda serta investasi pengembangan teknologi kendaraan hybrid. Lebih jauh lagi, program pengembangan konservasi energi dan pembangunan gedung ramah lingkungan.

Korea Selatan juga sedang merencanakan anggaran sebesar US$72,2 juta sebagai dana energi terbarukan yang dipergunakan untuk menarik dunia usaha agar berinvestasi pada bidang listrik tenaga surya, angin dan hidro, baik untuk pengembangan teknologi maupun pembangunan konstruksinya. Pengembangan energi terbarukan ini diharapkan mampu menciptakan 3,5 juta lapangan kerja pada tahun 2018, dan tambahan 2.000 lapangan kerja pada tahun 2009 yang akan terserap pada proyek-proyek permulaan.

Pemerintah Afrika Selatan mendukung gerakan working for water yaitu program pembersihan berbagai tanaman pengganggu yang mengancam kehidupan satwa liar, sumber air, keindahan daerah wisata dan areal pertanian. Mengingat pentingnya proyek yang melibatkan 30.000 orang yang diantaranya terdiri dari perempuan dan kaum difable ini, sampai-sampai pemerintah Afrika Selatan harus rela mengeluarkan dana US$60 juta setiap tahun untuk membiayainya. Proyek ini terus dikembangkan dan diharapkan dapat mengangkat 40 juta ton tanaman pengganggu yang akan dijadikan sebagai bahan bakar pembangkit listrik sebesar 500 megawat. Pembangkit itu sendiri diharapkan mampu menyerap 5.000 tenaga kerja.

Negara-negara lain seperti Jepang, China dan Inggris juga telah melakukan program green new deal ini. Upaya tersebut sebanding dengan berbagai kegiatan ekonomi konvensional dalam hal penyerapan tenaga kerja dan memerangi kemiskinan.

GGND diluncurkan bukan hanya untuk mengatasi masalah lingkungan hidup serta mengabaikan berbagai masalah lain yang sedang dihadapi dunia. Program ini lebih pada sebuah koreksi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi, investasi, dan insentif yang akan mengurangi ketergantungan akan energi karbon dalam aktivitas perekonomian dunia, melindungi ekosistem yang rapuh dan mengentaskan kemiskinan melalui  pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan pekerjaan, sehingga hasil pembangunan bisa dinikmati generasi selanjutnya.

(Dikutip dari berbagai sumber)

Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: