Resesi Global: Bagaimana Indonesia Bertahan?

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI edisi Nov-Des 08)

Krisis ekonomi yang melanda dunia sekarang ini disebut-sebut merupakan yang terburuk setelah masa depresi tahun 1930-an . Kondisi ini sempat membuat berbagai kalangan seperti tersadar dari mimpi panjang dan bertanya-tanya. Bagaimana tidak, ditengah upaya dunia untuk mengentaskan kemiskinan penduduk sesuai sasaran dalam Millenium Development Goals (MDGs) dan semakin gencarnya perdagangan bebas serta kerjasama ekonomi internasional, mendadak dunia dihadapkan pada krisis. Mengapa keadaan ini bisa terjadi? Siapa yang salah? Seberapa parah krisis ini? Apa yang harus dilakukan?

Siapa yang Salah?

Profesor David Dapice dari Tufts University, Massachusets dalam suatu diskusi terbatas yang dihadiri para ekonom baik dari Bank Indonesia maupun dari Ikatan Sarjana Eekonomi Indonesia (ISEI) pada penghujung bulan Desember 2008, memaparkan bahwa ada tiga hal di Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan krisis terjadi.

Pertama, para pembuat kebijakan, termasuk  The Fed didalamnya tidak melakukan tugasnya. Mereka terlalu percaya bahwa sektor swasta sangat pintar dan tidak memerlukan pengawasan dari lembaga pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari dukungan mereka atas berbagai peraturan yang mengijinkan bank investasi membeli aset beresiko tanpa mensyaratkan jumlah modal yang harus dimiliki. Bahkan para pimpinan tertinggi otoritas tidak memperdulikan berbagai peringatan baik dari dalam maupun dari luar.

Kedua, lembaga keuangan telah kehilangan etika sehingga tidak lagi mempunyai ”rasa memiliki” terhadap dana nasabah yang dikelolanya. Mereka malahan menganggap nasabah sebagai target. Sekuritisasi mortgages, yang sebenarnya bukan hal yang tabu, telah menjadi pemicu resesi dunia karena perilaku berbagai komponen dalam industri finansial seperti, penerbit, bank (baik komersial maupun investasi), lembagai pemeringkat dan bahkan para broker properti, yang lebih mementingkan komisi yang mereka peroleh dan melupakan underlying transaksi.

Ketiga, kebijakan tax-cut-and-spend yang selama ini dilakukan pemerintah AS menciptakan kegagalan. Bagaimana tidak, kebijakan pemotongan pajak berbarengan dengan besarnya anggaran untuk membiayai perang. Anggaran pemerintah yang surplus segera menjadi defisit hanya dalam kurun waktu 4 tahun. Sementara itu The Fed tetap mempertahankan tingkat suku bunga yang selalu rendah pada periode tersebut.  Pada akhirnya berkurangnya rasio pajak dibandingkan dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) menyebabkan berbagai pihak meragukan kemampuan AS untuk melakukan kebijakan-kebijakan untuk mengatasi krisis ini.

Selain itu, menurut ekonom Faisal H. Basri pada sebuah seminar pada bulan November 2008 lalu di Jakarta, penyebab krisis adalah kebijakan deregulasi terhadap pasar saham pada era 1970-an dan dicabutnya Glass-Staegall Act pada tahun 1990-an, yang mana mengijinkan bank investasi untuk berdiri sendiri dan terlepas dari bank komersial.

Indonesia: blessing in disguise?

Pada saat ini AS dengan negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Inggris dan Eurozone dimungkinkan akan mengalami resesi yang dalam dan akan terjadi pelambatan ekonomi bagi beberapa negara lainnya.  Begitu juga dengan perekonomian para raksasa Asia yaitu China dan India.

David Dapice menyampaikan bahwa beberapa negara anggota ASEAN, dalam hal ini Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam, akan mengalami dampak yang buruk sebagai akibat rendahnya harga komoditas, berkurangnya ekspor, menurunnya wisatawan, dan langkanya capital inflow.

Walaupun demikian, menurut Dapice, dampak buruk yang dirasakan Indonesia akan lebih kecil dibanding para tetangganya di Asia Tengara. Benarkah kondisi Indonesia lebih baik dibanding negara ASEAN lainnya?

Faisal H. Basri menyampaikan bahwa sumber daya tahan Indonesia dari krisis adalah kondisi sektor keuangan Indonesia yang tidak terintegrasi langsung dengan sektor keuangan AS, turunnya harga minyak ke level 50 dolar AS/barel, current account yang masih surplus, persentase ekspor Indonesia ke AS, Eropa dan Jepang sudah menurun dan berganti ke negara-negara emerging market dan ASEAN.

Sedangkan menurut Erwin Aksa, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) pada acara seminar yang sama, menyatakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pada masa krisis global ini bisa dikatakan jauh lebih baik dari kondisi krisis tahun 1997. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi politik yang stabil, fundamental perbankan yang relatif kuat, cadangan devisa yang mencapai 50 miliar dolar AS, BI rate yang terjaga dikisaran 8-10%, pertumbuhan ekonomi sekitar 6%, nilai rupiah yang stabil, tidak ada isu rasial – sehingga para pengusaha keturunan tetap beraktivitas, dan cadangan pangan nasional yang cukup. Sementara Chatib Basri, Direktur LPEM FE UI, menyebutkan bahwa kondisi Indonesia saat ini lebih baik. Hal itu tercermin dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang masih dikisaran 6%, balance of payment yang masih positif, investasi yang tetap kuat yang tercermin dari nilai impor barang modal yang masih tinggi yaitu mencapai 15,18% dari total impor.

Bila dilihat dari beberapa data dan indikator ekonomi, selain karena faktor keberhasilan dalam mengelola perekonomian, beberapa faktor yang menjadi sumber daya tahan ekonomi Indonesia juga disebabkan oleh ketidakberhasilan Indonesia.

Menurut Dapice nilai ekspor Indonesia yang berada pada kisaran 35% dari PDB, dan hanya sekitar 70% diantaranya yang berasal dari industri manufaktur. Bandingkan dengan Malaysia, Thailand dan Vietnam yang ekspornya mencapai kisaran angka 70% dari PDB. Melemahnya permintaan dari negara-negara industri maju akan produk manufaktur tentunya tidak akan menyebabkan proporsi kenaikan tingkat pengangguran seburuk negara ASEAN lainnya.

Demikian pula arus modal masuk ke Indonesia yang berupa direct investment dan investasi portofolio yang hanya sebesar 7% dari PDB, memberikan pengaruh yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan Thailand (12%), Malaysia dan Filipina (masing-masing diatas 15%).

Sedangkan rasio kapitalisasi pasar modal terhadap PDB Indonesia angkanya dibawah 30%. Sementara itu Filipina mencapai 40%, Thailand 70% dan Malaysia mencapai 130%.  Maka ketika pasar modal terpuruk Indonesia tidak terlalu menderita.

Demikian juga halnya dengan sektor pariwisata dimana konstribusinya hanya sekitar 6-7% dari PDB. Kecilnya kontribusi pariwisata terhadap PDB membuat ekonomi Indonesia tidak mempunyai dampak seburuk Thailand (10% dari PDB) ketika kunjungan wisatawan asing menurun tajam.

Apa yang Harus Dilakukan?

M. Chatib Basri dalam makalahnya menyatakan bahwa untuk segera keluar dari krisis yang harus dilakukan dalam jangka pendek adalah pertama membenahi sektor finansial yaitu menaikkan nilai penjaminan simpanan, suntikan permodalan dan pembiayaan. Kedua, Indonesia perlu memberikan sinyal bahwa akan mengelola current account yang surplus atau, paling tidak, defisitnya kecil. Ketiga, membuat anggaran yang efisien (dengan mengurangi defisit), tetapi harus tetap mengupayakan adanya stimulus fiskal. Keempat, mencari sumber dana untuk menutup defisit anggaran diluar penerbitan surat utang yaitu dengan pinjaman multilateral, bilateral atau dana dari negara-negara timur tengah. Kelima, mengeluarkan kebijakan yang bersahabat terhadap investor asing. Dan keenam, mengelola likuiditas di pasar.

Sementara itu Erwin Aksa mengatakan bahwa untuk keluar dari krisis, pemerintah harus segera menerapkan full blanket guarantee, penurunan tingkat BI rate, melakukan kontrol devisa dan insentif untuk repatriasi modal dari luar negeri.

Pada sisi lain, David Dapice menyarankan bahwa pertumbuhan Asia tidak bisa lagi mengandalkan ekspor ke AS, Jepang dan Eropa. Oleh karena itu Asia, termasuk Indonesia di dalamnya, harus melakukan ekspansi investasi di infrastruktur dan layanan sosial, karena hal akan memacu pertumbuhan dan membantu menyeimbangkan perekonomian.

Perekonomian Indonesia, menurut Faisal Basri, sepertinya mengarah pada pola AS yang rapuh itu. Padahal pola AS telah menunjukkan kegagalan. Kalau hal itu terjadi pada Indonesia konsekuensinya bisa sangat parah, karena Indonesia tidak mempunyai previlege seperti AS untuk mengatasinya. Oleh karena itu diperlukan perubahan pola pikir yang mendasar agar perekonomian bisa lebih kokoh yaitu dapat mencapai tujuan secara efektif, stabil dan memenuhi rasa keadilan.

Bright Institute dalam paparan outlook ekonomi Indonesia di Financial Club, Jakarta, menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia hendaknya mengelola perekonomian dengan perspektif jangka panjang dengan cakupan yang lebih luas. Secara teoritis, perbedaan penting antara jangka pendek dengan jangka panjang adalah pada perilaku harga. Karena dalam jangka panjang, harga bersifat fleksibel dan bisa menanggapi perubahan dalam penawaran dan permintaan.

Pengertian pertumbuhan ekonomi yang lebih luas cakupannya dan berperspektif jangka panjang adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih menitikberatkan perhitungannya pada perkembangan secara perkapita, aspek pemerataannya dan aspek kelangsungannya yang secara terus menerus dan diikuti dengan sedikit sekali fluktuasi.

Kebijakan makroekonomi yang dipilih seharusnya juga memperhitungkan ketersediaan teknologi atau berdimensi teknologis. Maksudnya, penambahan modal secara agregat an sich akan kurang efektif jika tidak disertai perencanaan pengembangan teknologi yang tepat. Karena dalam perekonomian bisa saja terjadi dinamika produksi yang bersifat saling meniadakan atau substitutif, bukannya komplementer untuk menambah kapasitas produksi. Suatu investasi mungkin segera menambah kapasitas produksi, namun karena berdampak pada matinya kelompok usaha produktif yang lain, maka hasil akhirnya tidak bisa dihitung sebesar tambahan investasi itu tersebut.

Tagged , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: