Negara Besar: Mimpi yang Besar

Pembangunan Indonesia selalu diukur tingkat keberhasilannya dengan angka-angka, yang dibuat oleh para ekonom, baik itu disebut dengan pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, tingkat inflasi.

Pemerintah Indonesia akan cukup bangga ketika institusi keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi, pendapatan perkapita masyarakat meningkat dari tahun ketahun, pertumbuhan investasi tinggi, neraca perdagangan positif, neraca pembayaran positif.

Benarkah hanya itu ukuran keberhasilan sebuah bangsa? Oh ada yang lain lagi yaitu IPM atau Indeks Pembangunan Manusia, yang ternyata semuanya tetap saja terdiri dari angka-angka. Sehingga akhirnya keberhasilan suatu bangsa hanya diukur berdasarkan otak atik angka.

Amerika Serikat sang Adidaya
Ketika saya melihat Amerika Serikat, tiap tahun neraca perdagangannya negatif. Setiap tahun anggaran belanjanya defisit. Setiap tahun hutangnya semakin menumpuk. Tetapi tidak ada satupun negara di dunia yang mengatakan bahwa Amerika Serikat gagal dalam pembangunan. Bahkan ketika sekarang krisis keuangan menghantam mereka dengan kuat, tidak ada resep IMF dan Bank Dunia yang mengharuskan mereka melakukan ini dan itu. Bahkan dengan lantang George W Bush yang sudah mau lengser pun tetap membela bahwa kapitalisme, perdagangan bebas dan demokrasi adalah jalan terbaik bagi kita untuk keluar dari krisis.

Ketika kita bertanya kenapa AS bisa selantang dan sekuat itu, maka jawabannya secara serempak mengatakan: karena AS negara besar, negara adidaya.
Padahal saya ingin sekali menjawab, karena AS merasa besar dan merasa sebagai adidaya.

AS mengusung jalan kapitalisme dan demokrasi sebagai pondasi negara. Mereka memberi kebebasan kepada rakyat untuk melakukan apa saja, asal jangan mengganggu kapitalisme dan demokrasi.
Maka semua orang yang mempunyai impian menganggap bahwa AS adalah tanah impian tempat mewujudkan segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Karena itu mereka bangga menjadi bagian dari AS.
Maka suburlah para industriawan tumbuh di AS, mereka semua dikenal dunia dan bahkan mencengkram dunia.
Ya, Amerika besar karena banyaknya para industrialis. Merekalah yang membangun AS menjadi besar, mereka mewujudkan segala keinginan mereka. Itulah kapitalisme.

China sang Naga Asia
Republik Rakyat China (China) adalah kekuatan besar di Asia yang bangkit setelah lama terlelap. Untuk apa mereka terlelap? Mereka terlelap untuk membangun karakter sebagai bangsa China. Sebagai salah satu bangsa yang mempunyai sejarah tertua di dunia. Sebagai bangsa yang menemukan mesiu. Sebagai bangsa yang armada lautnya malang melintang di waktu lalu. Sebagai bangsa yang merasa akan mampu bangkit untuk kembali disegani dunia.
Dan ketika mereka bangun dari tidurnya, keinginan itu terwujud. China menjelma menjadi kekuatan dunia yang disegani dan diperhitungkan dalam peradaban dunia.

Apa yang membuat China menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia? Jawabannya adalah industri.
China yang pertama kali hanya sebagai tempat penanaman modal asing, kini para industrialisnya bangkit membangun perusahaan-perusahaan yang produknya secara masif membanjiri dunia. Semua produk bisa dibuat oleh bangsa China mulai dari peniti, sepeda, komputer, mobil, bahkan industri antariksa seperti roket dan satelit.

Ketika menghadapi masalah apakah China peduli dengan saran-saran Bank Dunia dan IMF? Apakah China menggunakan rezim devisa bebas? Apakah China membuat nilai tukar Yuan mengikuti nilai pasar? Apakah China mendengarkan dunia untuk segera mengadopsi jalan demokrasi?
Jawabannya adalah tidak. Mengapa? Karena China merasa sebagai bangsa yang besar dan mereka merasa tahu apa yang terbaik untuk membangun ekonominya, untuk membangun bangsanya.

India sang Industrialis
India adalah negara dengan sejuta permasalahan. Negara ini merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Rakyatnya banyak yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Tapi apakah India bisa didikte oleh negara lain? Jawabanya sama dengan China dan AS yaitu tidak. Mengapa? Karena India merasa sebagai negara besar. Mereka mempunyai PDB yang sangat tinggi. India mempunyai jutaan orang bergelar PhD. Memiliki jutaan insinyur. Orang-orang India menduduki posisi penting di berbagai organisasi dunia dan perusahaan-perusahaan raksasa.
Perekonomian India maju karena didukung para industrialis. Siapa yang tidak kenal Tata, Mittal, Bajaj dan Maruti? Bangalore adalah Silicon Valley di luar Amerika.
Apa yang tidak bisa dihasilkan India? Mereka bisa membuat sepeda motor, mobil, pesawat terbang, kapal bahkan industri antariksa seperti roket dan juga satelit layaknya China.

Indonesia yang sibuk dengan angka
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa adalah Indonesia yang besar. Indonesia yang dipandang sebagai kekuatan utama di Asia sejajar dengan China dan India. Tapi apa yang bisa kita hasilkan? Semua orang di Indonesia sibuk mengamati dan menghitung inflasi, pendapatan perkapita, pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar rupiah.
Apakah ada kata terlambat? Kalau kita mulai 10 tahun lalu atau 20 tahun lalu mungkin kita sudah punya pesawat terbang produksi sendiri, mungkin kita sudah punya mobil produksi nasional, mungkin kita sudah bisa membangun industri dan membesarkan para industrialis. Bukan membesarkan pedagang dan pemburu rente.
Tetapi semua itu perlu dukungan yang kuat dari pemerintah. Kita bisa lihat Korea Selatan yang kecil mungil bisa merajai industri kendaraan, alat berat, kapal dan elektronik kenapa Indonesia yang begini besar tidak mampu? Harus ada yang disalahkan? Atau harus segera mulai dan lupakan kesalahan. Sekali lagi sudah terlambat kah? Sudah tidak ada kesempatan untuk mulai?
Kita patut bertanya adakah negara dengan penduduk diatas 200 juta jiwa yang presidennya masih menggunakan mobil dinas produk luar negeri? Adakah negara dengan penduduk di atas 200 juta jiwa yang belum bisa buat pesawat? Adakah negara yang penduduknya di atas 200 juta jiwa yang belum bisa membat satelit. Adakah negara dengan penduduk di atas 200 juta jiwa yang tidak mempunyai produk dengan merek yang bisa dibangakan di dunia?
Adakah hal ini masih ada dalam pemikiran bangsa Indonesia? Atau kita akan terus sibuk menghitung tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, nilai tukar rupiah dan pendapat pendapat lain yang terlalu kerdil dalam melihat keberhasilan suatu bangsa? Mereka sibuk membandingkan kita dengan Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina. Negara negara yang tidak pernah di dengar pendapatnya oleh dunia internasional. Mereka tidak pernah sadar bahwa Indonesia terlalu besar untuk diukur dengan ukuran-ukuran matematis kerdil seperti itu.

AS sebagai adidaya saja sadar bahwa kita negara besar. Kita diundang ke KTT G-20. Apakah Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Laos, Kamboja diundang? Jawabannya tidak. Kenapa? Karena kita negara besar. Dan mereka negara kecil. Kenapa kita harus sibuk bersaing dengan negara kecil kalo kita bisa menjadi negara besar.

Tidak ada gunanya kita mati-matian mempertahankan NKRI kalau mindset kita masih menggap negara kita seperti negara-negara tetangga kita di Asia Tenggara.
Ketika para pemimpin bangsa ini menggunakan benchmark negara kecil, sudah pasti hasilnya tidak akan memuaskan. Mengelola negara kecil tidak sama dengan mengelola negara besar. Resep yang dipakai untuk negara kecil tidak akan tepat untuk negara besar. Karena itu selama ini konsep-konsep pembangunan yang terlalu kerdil tidak akan membawa bangsa ini kearah yang memuaskan.
Kalau mindset masyarakat, para intelektual, para ahli dan para pemimpin masih saja selalu membandingkan dengan negara kecil, secara sinis kita bisa mengatakan bagi aja negara ini menjadi negara yang kecil-kecil, sudah pasti mengelolanya akan lebih gampang dan akan lebih cepat sejahtera.

Angka-angka statistik memang penting dan kita memerlukannya. Tapi bila setiap kebijakan negara hanya berdasarkan itu maka ketertinggalan kita akan semakin jauh. Dan mimpi itu tidak akan pernah terwujud.
Saya masih yakin untuk mengatakan tidak ada kata terlambat. Kita harus mendorong industrialis nasional agar menjadi industrialis yang kelas dunia, atau paling tidak bisa memenuhi rasa dahaga akan kebanggaan kita sebagai bangsa. Semua itu perlu dukungan politik pemerintah dan partisipasi penuh masyarakat.
Biarkanlah pemerintah daerah di kabupaten, kota dan provinsi yang sibuk dengan angka-angka statistik, supaya kebijakan mereka tepat sasaran.
Tapi para pemimpin bangsa di tingkat nasional, berpikirlah bahwa negara ini negara besar dan harus mempunyai wawasan sebagai pemimpin negara besar.

Maukah kita? Siapkah kita?
Atau masih tetap ingin terus sibuk menghitung angka-angka dan membandingkan dengan negara kecil?

Tagged , , , , , ,

One thought on “Negara Besar: Mimpi yang Besar

  1. Opinimu bagus cuma lebih dikembangkan metodologi researchnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: