Terorisme, Kemandirian & Usaha Mikro (3)

Telah sering dibahas dan dikemukanan bahwa usaha kecil dan mikro yang sebagian besar adalah usaha sektor informal menjadi usaha yang kebal krisis. Tapi karena akses mereka terhadap sumber-sumber keuangan terbatas (banyak yang tidak bankable) maka banyak yang akhirnya menjadi jalan ditempat.

Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mempunyai peran sangat menentukan dalam menjembatani pelaku usaha mikro untuk bisa mengakses sumber-sumber keuangan. Untuk itu Baitul Mal wa Tamwil (BMT) yang merupakan LKM berbasis syariah mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi motor penggerak usaha mikro. Dewasa ini banyak sekali BMT yang telah didirikan dan bahkan beberapa sudah mempunyai aset miliaran rupiah.

Upaya pengembangan BMT di berbagai wilayah di seluruh Indonesia sampai ke pelosok desa diharapkan mampu memecahkan penghalang masyarakat terhadap sumber pendanaan juga sebagai lembaga yang mampu mendorong masyarakat untuk bisa mengembangkan usaha yang mandiri dan mengentaskan mereka dari kemiskinan.

Tetapi untuk memngembangkan hal tersebut memrlukan tokoh-tokoh yang mampu menjadi change maker, mempunyai kepribadian tangguh, punya jiwa kepemimpinan, serta mau mengorbankan waktu dan tenaganya untuk mengembangkan masyarakat secara bersama-sama.

Suatu kepribadian yang sangat mulia dan tidak banyak memang di Indonesia ini. Tapi bukan berarti tidak ada. Hanya diperlukan kejelian dan kemauaan dari pemerintah untuk bekerja sama dengan berbagai lapisan masyarakat dan tokoh-tokoh agama.

Ketika kita melihat begitu banyaknya teroris yang di tangkap dan ternyata mereka mempunyai pandangan yang kuat terhadap doktrin keagamaan. Sebenarnya kita tidak kekurangan orang yang rela berkorban untuk sesuatu yang diyakininya. Kalau mereka mau berkorban nyawa demi agama, dengan pendekatan khusus semestinya kita bisa menemukan cara untuk membuat mereka mau berjuang demi agama di bidang ekonomi.

Sosok Abu Dujana, Amrozi, Imam Samudra, Dulmatin dan yang lainnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan dan keberanian diatas rata-rata orang biasa. Bahasa asing mereka kuasai, teknologi informasi mereka fahami dan kepercayaan akan doktrin, ketangguhan, militansi dan keberanian serta tidak silau dengan harta, karena mereka selalu hidup sederhana.

Sebenarnya sosok-sosok seperti itulah yang diperlukan bangsa ini sebagai change maker untuk membangun masyarakat yang mandiri, kreatif dan tangguh. Harus ada kemamuan kuat dari pemimpin, birokrat, tokoh-tokoh dan masyarakat untuk menemukan karakter-karakter orang seperti itu untuk “berjihad“ di luar kegiatan terorisme.

Sehingga tidak ada lagi generasi jihad yang meledakkan bom, tetapi generasi jihad pembangun ekonomi masyarakat yang tangguh, untuk mengentaskan kemiskinan dan mampu melawan ketidakadilan dengan kemandirian dan kreativitas.

Tagged , , , , , , , ,

2 thoughts on “Terorisme, Kemandirian & Usaha Mikro (3)

  1. putuyoga says:

    hmm, komentar saya di ubah tuch…..ama adilsatriapinandhita

  2. sayasaja says:

    thx udah mampir….
    memang doi rada aneh. Kita cuekin aja kali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: