Pemulihan Krisis Berwawasan Lingkungan

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI Edisi Jan-Feb 09)

Krisis ekonomi yang sedang melanda dunia disebut-sebut sebagai krisis terburuk sejak masa great depression pada tahun 1930-an. Menurut proyeksi Bank Dunia, pada tahun 2009 ini untuk pertama kalinya volume perdagangan dunia akan mengalami penurunan, begitu juga dengan pendapatan perkapita global. Angka pengangguran secara global akan meningkat  antara 18 juta sampai 51 juta orang bila dibandingkan angka tahun 2007. Kemudian setiap 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang akan mengakibatkan bertambahnya 20 juta orang miskin.

Turunnya harga saham, meningkatnya pengangguran dan bangkrutnya industri  telah membuat dunia memusatkan perhatian pada masalah pemulihan ekonomi. Berbagai kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh pemerintahan di berbagai belahan bumi untuk menyelamatkan perekonomian. Mulai dari stimulus fiskal, pengambil alihan oleh pemerintah sampai memperketat peraturan di industri keuangan.

Walaupun demikian pemerintahan negara-negara di dunia tidak seharusnya melupakan perhatiannya pada masalah perubahan iklim. Bahkan bila mungkin mampu menciptakan upaya yang bertujuan ganda yaitu mampu memulihkan perekonomian serta sekaligus melawan pemanasan global. Keadaan ini bisa dimanfaatkan untuk berinvestasi pada bidang lingkungan, sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan perekonomian. Continue reading

Tagged , , , , ,

Keynesian Kembali Berkibar

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI Edisi Nov-Des 08)

Ketika krisis keuangan melanda Amerika Serikat (AS) dan menular keseluruh dunia, sehingga gejala resesipun mulai menghinggapi perekonomian dunia, banyak ekonom dan pemerintahan negara-negara di dunia mulai kembali berpaling pada teori dan pemikiran John Maynard Keynes.

Sudah sejak lama Keynes menjelaskan bahwa pasar tidak bisa mengkoreksi dirinya sendiri, karena itu perlunya dikeluarkan regulasi dan campur tangan pemerintah. Tetapi selama tiga dekade ini banyak pihak, terutama mereka yang bergerak di industri pasar keuangan, memaksakan apa yang disebut market fundamentalism.

Keynes juga mengungkapkan bahwa tidak hanya pasar yang tidak bisa menyeimbangkan dirinya sendiri, kebijakan moneter pun akan menjadi tidak efektif ketika perekonomian sedang mengalami pelemahan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan fiskal, walaupun tidak seluruh kebijakan fiskal juga akan berdampak efektif. Sebagai contoh pada kondisi saat ini, Jospeh E. Stiglitz mengatakan bahwa  di AS besarnya hutang rumah tangga dan ketidakpastian mengakibatkan pemotongan pajak menjadi tidak efektif. Pemotongan pajak pada bulan Februari 2008 lalu ternyata tidak meningkatkan konsumsi tetapi meningkatkan tabungan. Yang harus dilakukan adalah pemotongan pajak kepada rakyat miskin dan meningkatkan tunjangan bagi para pengangguran karena keduanya mempunyai marginal propensity to consume tinggi. Continue reading

Tagged , , ,

Resesi Global: Bagaimana Indonesia Bertahan?

(Tulisan ini dimuat di Warta ISEI edisi Nov-Des 08)

Krisis ekonomi yang melanda dunia sekarang ini disebut-sebut merupakan yang terburuk setelah masa depresi tahun 1930-an . Kondisi ini sempat membuat berbagai kalangan seperti tersadar dari mimpi panjang dan bertanya-tanya. Bagaimana tidak, ditengah upaya dunia untuk mengentaskan kemiskinan penduduk sesuai sasaran dalam Millenium Development Goals (MDGs) dan semakin gencarnya perdagangan bebas serta kerjasama ekonomi internasional, mendadak dunia dihadapkan pada krisis. Mengapa keadaan ini bisa terjadi? Siapa yang salah? Seberapa parah krisis ini? Apa yang harus dilakukan?

Siapa yang Salah?

Profesor David Dapice dari Tufts University, Massachusets dalam suatu diskusi terbatas yang dihadiri para ekonom baik dari Bank Indonesia maupun dari Ikatan Sarjana Eekonomi Indonesia (ISEI) pada penghujung bulan Desember 2008, memaparkan bahwa ada tiga hal di Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan krisis terjadi.

Pertama, para pembuat kebijakan, termasuk  The Fed didalamnya tidak melakukan tugasnya. Mereka terlalu percaya bahwa sektor swasta sangat pintar dan tidak memerlukan pengawasan dari lembaga pemerintah. Hal ini bisa dilihat dari dukungan mereka atas berbagai peraturan yang mengijinkan bank investasi membeli aset beresiko tanpa mensyaratkan jumlah modal yang harus dimiliki. Bahkan para pimpinan tertinggi otoritas tidak memperdulikan berbagai peringatan baik dari dalam maupun dari luar.
Continue reading

Tagged , , ,

Barack Obama dan Solusi Pemanasan Global

(Tulisan ini dimuat di warta ISEI Edisi Nov-Des 08)

Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat  (AS) membawa harapan akan adanya perubahan kebijakan AS yang lebih bersahabat terhadap dunia internasional. Demikian juga harapan para pemerhati lingkungan bahwa perubahan ini akan berdampak terhadap kebijakan dan peran AS dalam menghadapi isu-isu perubahan iklim.

Selama delapan tahun pemerintahan George W. Bush, AS telah mempraktekkan gaya unilateralist dalam relasinya dengan dunia internasional. Temasuk dalam menanggapi isu-isu pemanasan global.

Pemanasan Global
Pemanasan global adalah suatu fenomena global yang dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil dan kegiatan alih guna lahan. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O) yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer. Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi semakin meningkat atau disebut efek rumah kaca (Murdiyarso, 2007). Continue reading

Tagged , , , , ,

Perdagangan Berjangka Komoditi di Indonesia

(Tulisan ini di muat di Warta ISEI Edisi Juli-Agustus 2008)

Pengaduan atas praktek penipuan yang dilakukan oleh perusahaan pialang yang bergerak di industri perdagangan berjangka komoditas terhadap nasabah mereka sampai dengan pertengahan tahun 2008 masih terjadi. Jumlah dana yang menjadi obyek penipuan, menurut pengaduan itu mencapai angka milyaran rupiah.

Bagaimana sebenarnya perkembangan industri perdagangan berjangka komoditas di Indonesia? Bagaimana sebenarnya peran masing-masing lembaga yang ada di dalam industri ini? Apa peran pemerintah dalam pengembangan industri ini?

Industri perdagangan berjangka komoditas di Indonesia didasarkan pada Undang-undang No. 32 tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi dan Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi. Continue reading

Tagged , , , ,

Negara Besar: Mimpi yang Besar

Pembangunan Indonesia selalu diukur tingkat keberhasilannya dengan angka-angka, yang dibuat oleh para ekonom, baik itu disebut dengan pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, tingkat inflasi.

Pemerintah Indonesia akan cukup bangga ketika institusi keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi, pendapatan perkapita masyarakat meningkat dari tahun ketahun, pertumbuhan investasi tinggi, neraca perdagangan positif, neraca pembayaran positif.

Benarkah hanya itu ukuran keberhasilan sebuah bangsa? Oh ada yang lain lagi yaitu IPM atau Indeks Pembangunan Manusia, yang ternyata semuanya tetap saja terdiri dari angka-angka. Sehingga akhirnya keberhasilan suatu bangsa hanya diukur berdasarkan otak atik angka. Continue reading

Tagged , , , , , ,

Surat Keputusan Bersama Empat Menteri

Pemerintah Indonesia pada bulan Oktober 2008 ini telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama antara Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Menteri Perindustrian, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perdagangan (SKB).

Keputusan ini menegaskan bahwa dalam penentuan besarnya upah minimum provinsi tahun 2009, pemerintah tidak lagi terlibat didalamnya. Hal ini berarti dalam penentuan upah minimum prosesnya diserahkan pada negosiasi antara serikat pekerja dan perusahaan.

Landasan yang diambil keputusan ini adalah untuk menyelamatkan dunia usaha dari kelumpuhan akibat krisis keuangan global.

Keputusan ini tentu saja mendapat tentangan yang keras dari organisasi buruh. Mereka khawatir hal ini hanya akan menguntungkan pengusaha dan menekan buruh untuk menerima upah yang ternyata, menurut SKB tersebut, boleh lebih rendah dari upah minimum tahun 2008. Continue reading

Tagged , , , , , , ,

Biofuel Pilihan Terakhir?

Berikut petikan paparan Prof Dr Emil Salim pada Harian Ekonomi Neraca

Menurut Emil Salim, energi biofuel yang lagi digalakan seharusnya menjadi prioritas terendah setelah seluruh sumber energi alternatif lainnya diberdayakan seperti energi matahari, geothermal, biomas, air dan angin.

Saat ini biofuel berasal dari Kelapa Sawit dan pohon Jarak yang memerlukan banyak lahan untuk mengembangkannya. Dan banyak sekali pohon Kelapa Sawit ditanam di daerah hutan bukan daerah yang terdegradasi.Sebaiknya lahan di Indonesia diselamatkan dahulu untuk mencukupi kebutuhan pangan. Continue reading

Tagged , , , , ,

Raisya dan Kemarahanku

Jumat lalu Raisya sudah kembali ke pangkuan orang tuanya, setelah seminggu di culik anak-anak muda yang katanya selama ini mempunyai perilaku baik dan alim.

Setelah membaca berita dari detik.com disini dan disini saya curiga dibalik ini semua adalah kembalinya kelompok-kelompok islam yang gelap mata.

Menurut kabar, selama ini para anggota kelompok tersebut di baiat sebagai anggota dan mau melakukan apapun untuk kelompoknya atas nama perjuangan demi agama (jihad?).

Malah ada rekan saya yang berani menjual mobil orangtuanya demi menyumbang kelompok tersebut. Dan hal itu harus dilakukan karena bila menolak akan membahayakan jiwa mereka dan anggota keluarga mereka. Continue reading

Tagged , ,

Sekali Lagi Tentang Kebebasan Finansial

Kemarin saya dapat SMS dr mantan atasan untuk ikut pertemuan salah satu bisnis MLM. Saya adalah anggota MLM tersebut. Kemudian saya jadi teringat dengan konsep financial freedom. Banyak yang mempromosikan konsep ini dengan mengatakan bahwa kita akan terbebas dari belenggu pekerjaan, kita bebas dari semprotan bos, kita bebas dari pergi pagi pulang malam.

Saya jadi bertanya-tanya apakah benar pekerjaan itu merupakan belenggu? Apakah dengan kebebasan finansial kita tidak akan melakukan kesalahan sehingga tidak ada orang yang kecewa/marah? Benarkah semuanya akan mendatangkan kebahagiaan? selengkapnya

Tagged , , , ,