Barack Obama dan Solusi Pemanasan Global

(Tulisan ini dimuat di warta ISEI Edisi Nov-Des 08)

Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan presiden Amerika Serikat  (AS) membawa harapan akan adanya perubahan kebijakan AS yang lebih bersahabat terhadap dunia internasional. Demikian juga harapan para pemerhati lingkungan bahwa perubahan ini akan berdampak terhadap kebijakan dan peran AS dalam menghadapi isu-isu perubahan iklim.

Selama delapan tahun pemerintahan George W. Bush, AS telah mempraktekkan gaya unilateralist dalam relasinya dengan dunia internasional. Temasuk dalam menanggapi isu-isu pemanasan global.

Pemanasan Global
Pemanasan global adalah suatu fenomena global yang dipicu oleh kegiatan manusia terutama yang berkaitan dengan penggunaan bahan bakar fosil dan kegiatan alih guna lahan. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (N2O) yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer. Gas-gas tersebut memiliki sifat seperti kaca yang meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga suhu atmosfer bumi semakin meningkat atau disebut efek rumah kaca (Murdiyarso, 2007).
Dampak sosial politik yang diakibatkan oleh pemanasan global adalah menurunya produksi pangan, terganggunya ketersediaan air serta naiknya permukaan laut yang akan menenggelamkan negara-negara kepulauan.

Negara industri maju merupakan penghasil terbesar gas efek rumah kaca yaitu penghasil emisi karbon terbesar dan menurut data tahun 1990 adalah Amerika Serikat (36,1%), Rusia (17,4%), Jepang (8,5%), Jerman (7,4%), Inggris (4,2%), Kanada (3,3%), Italia (3,1%), Perancis (2,7%), Australia (2,1%).

Tidak semua negara industri maju siap mengatasi masalah ini, karena upaya mitigasi memerlukan biaya yang tidak murah. Sementara dilain pihak negara berkembang, yang bukan penyebab masalah karena emisi karbonnya sangat kecil, merasakan dampak pemanasan global, tetapi tidak mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengatasinya.

Untuk mengatasi hal tersebut negara-negara anggota PBB akhirnya mengadopsi Konvensi Kerangka Kerja  Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change/UNFCCC) di Rio de Janeiro, Brasil pada tahun 1992 yang diharapkan jadi landasan yang kuat untuk bisa bertindak terhadap masalah pemanasan global.

Protokol Kyoto
Pada tahun 1995, di Berlin, Jerman, para peserta UNFCCC menyatakan bahwa komitmen negara industri maju sangat tidak memadai untuk menurunkan tingkat emisinya ke tingkat tahun 1990 pada tahun 2000.

Setelah melalui tahapan dan beberapa pertemuan yang panjang maka Protokol Kyoto diadopsi pada bulan Desember 1997, dan mulai dibuka untuk ditandatangani pada bulan Maret 1998.
Protokol Kyoto ini disusun untuk mengatur target kuantitatif dan target waktu penurunan emisi bagi negara maju. Sehingga dalam peroide 2008-2012 dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara gabungan paling sedikit 5% dari tingkat emisi tahun 1990. (Murdiyarso, 2007)

Negara maju menjadi target dari protokol ini karena merupakan penghasil emisi CO2 tebesar. Sedangkan negara-negara berkembang tidak termasuk dalam target protokol ini.
Tidak dilibatkannya negara berkembang dalam proses penurunan emisi membuat negara-negara maju menunjukkan penolakannya. Negara maju mengharapkan ada keterlibatan negara berkembang karena bagaimanapun dampak dari pemanasan global dirasakan oleh seluruh dunia.

Karena itu dalam prosesnya Protokol Kyoto menghasilkan suatu konsep yang bisa menjembatani dua kepentingan ini yang disebut dengan Clean Development Mechanism (CDM) yaitu suatu kerangka multilateral yang memungkinkan negara maju melakukan investasi di negara berkembang untuk mencapai target penurunan emisinya, sementara negara berkembang berkepentingan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan tujuan konvensi (Murdiyarso, 2007).

Sejak diadopsi tahun 1997, ternyata Protokol Kyoto tidak kunjung efektif, apalagi dengan mundurnya AS sebagai penghasil emisi terbesar dari kesepakatan ini. Padahal tanpa keikutseraan AS maka target pengurangan emisi tidak akan tercapai.

Pemerintahan Bush beralasan bahwa Protokol Kyoto tidak mencerminkan keadilan dan tidak efektif dimana negara-negara dengan penduduk terbrsar seperti China dan India dibebaskan dari kewajiban. Selain itu implementasi Protokol Kyoto akan berpengaruh negatif tehadap pertumbuhan ekonomi AS.

Platform Obama dalam Isu Perubahan Iklim
Dengan keberhasilan Barack Obama untuk menduduki Gedung Putih pada bulan Januari 2009 nanti, para pemerhati lingkungan berharap bahwa AS akan kembali memimpin dunia dalam masalah pemanasan global.

Para pengamat yakin bahwa Obama akan mampu menjembatani antara isu-isu energi, lingkungan dan ekonomi yang selama ini dijadikan alasan oleh pemerintahan Bush untuk mengabaikan masalah pemanasan global.

Hal itu terungkap dalam kampanyenya di Portsmouth, New Hampshire (8/10/07):

“We cannot afford more of the same timid politics when the future of our planet is at stake. Global warming is not a someday problem, it is now. We are already breaking records with the intensity of our storms, the number of forest fires, the periods of drought. By 2050 famine could force more than 250 million from their homes . . . . The polar ice caps are now melting faster than science had ever predicted. . . . This is not the future I want for my daughters. It’s not the future any of us want for our children. And if we act now and we act boldly, it doesn’t have to be.”

Sepertinya Obama mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan hidup, dan hal itu telah terbukti dalam rekan jejak semasa menjadi pengacara maupun ketika menjadi Senator. Bahkan pemerintahan Obama kelak menyatakan bahwa penanggulangan pemanasan global akan menjadi prioritas, dan akan meningkatkan peran Environment Pollution Agency (EPA) yang selama ini diabaikan oleh pemerintahan Bush.

Ada beberapa hal yang menjadi platform politik Obama dalam mengatasi masalah perubahan iklim, yang paling utama  yaitu mengurangi tingkat emisi karbon sebanyak 80 % pada tahun 2050.

Barack Obama berniat untuk mengurangi emisi karbon sebanyak 80% dibawah tingkat emisi 1990 pada tahun 2050 dengan mengimplementasikan market-based cap-and-trade system.
Hal ini akan segera dimulai dengan membuat suatu target pengurangan emisi tahunan sehingga bisa menyamai level emisi 1990 pada tahun 2020.

Cap and trade program akan menggunakan mekanisme pasar dalam mengurangi emisi dengan biaya yang efektif dan fleksibel.

Dengan program ini ambang batas emisi karbon nasional akan ditentukan. Emisi yang dikeluarkan di bagi sehingga tercapai angka ambang batas emisi yang diijinkan untuk tiap perusahaan. Karena batasan emisi ini, maka perusahaan yang mengeluarkan emisi akan mempunyai konsekuensi keuangan. Perusahaan bebas untuk memperjualbelikan sisa jatah emisinya. Perusahaan yang mampu mengurangi polusi dengan biaya rendah dapat menjual sisa jatah emisinya kepada perusahaan yang mengurangi emisi dengan biaya tinggi. Setiap tahun batas emisi akan terus dikurangi sesuai dengan target pengurangan emisi yang telah ditentukan.

Obama juga berjanji untuk kembali membawa AS menjadi pemimpin dunia dalam perang melawan pemanasan global dan mengatakan bahwa AS akan kembali berinteraksi dalam forum UNFCCC.

AS akan membentuk forum baru bagi para produsen gas rumah kaca terbesar yaitu dalam bentuk Global Energy Forum dimana anggotanya terdiri dari negara-negara G8 ditambah Brazil, China, India, Meksiko dan Afrika Selatan (G8+5). Forum Energi Global ini akan bergabung dalam proses negosiasi yang lebih luas di PBB untuk membangun kerangka kerja pasca Protokol Kyoto.

AS dibawah Obama juga berjanji  untuk mentransfer teknologi yang dimilikinya kepada Negara berkembang untuk melawan perubahan iklim dalam kerangka Technology Transfer Program. Obama mempunyai kepedulian khusus terhadap deforestasi hutan hujan tropis dan akan menawarkan insentif bagi pemeliharaan hutan yang berkelanjutan.

Demikian perubahan yang dijanjikan Obama terhadap dunia khususnya dalam isu pemanasan global. Semoga janji politik Obama bisa direalisasikan, karena bagaimanapun tidak akan mudah untuk menaklukan keinginan korporasi global yang mempunyai lobi yang kuat di dunia politik AS. Kita tunggu apakah kepiawaian politik Obama dan timnya akan mampu mewujudkan cita-cita politik tersebut.

Daftar Pustaka
Daniel Mudiyarso, Protokol Kyoto, Implikasinya bagi Negara Berkembang, Jakarta
Daniel Mudiyarso, CDM: Mekanisme Pembangunan Bersih, Jakarta
Sarwono Kusumaatmaja (editor), Politik dan Lingkungan, Jakarta
http://www.barackobama.com
http://www.newenergyforamerica.com

About these ads
Tagged , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: